Lingga Kehilangan ,Salah Satu Tokoh Sentral Kebudayaan Melayu.

KL- Kabupaten lingga telah kehilangan salah satu tokoh sentral Kebudayaan Melayu, yaitu said Abdul Hamid, yang telah pergi meninggalkan kita untuk selama lamanya pada hari Rabu malam (03/04/ 2019) di Rumah Sakit Encek Meriam Daik Lingga. Almarhum lahir di Daik Lingga 16 maret 1950, pansiun
Pansiunan PNS ini tugas terakhirnya du Tata Usaha SMP.N 1 Daik dan belaiu pernah juga sebagai Guru Honor di SDN.02 Daek.
Almrhum merupakan sosok yang sangat peduli, paham dan paham dengan Adat dan Budaya Melayu, khususnya tentang Adat dan Budaya Melayu yang lazim dipakai masyarakat melayu di daik lingga. Selain itu almarhum juga dikenal sebagai kolektor Barang- barang cagar Budaya Ragawi, yang mulai Almarhum tekuni sejak tahun 60 an dan semakin optimal ditekuni tahun 1980 an. Karena itu tak heran, banyak sekali para sejarahwan, peneliti, budayawan, mahasiswa, pelajar, tokoh tokoh budaya dan para tetamu baik dari dalam dan maupun luar negeri sering bekunjung ke rumah almarhum “Ujar, M.Ishak Disbud Kabupaten Lingga. Kami juga di Lembga Adat Melayu (LAM) lingga maupun di Dinas Kebudayaan bila mau menyusun buku buku tentang Adat dan Budaya Melayu tetap menjadikan almarhum sebagai Narasumber utama. Begitu juga dengan Pemerintah Daerah, lanjut “Ishak, Terutama sebelum kabupaten lingga terbentuk, kami dan Masyarakat Daik kalau ingin mengadakan acara Adat dan Budaya serta Hajat perkawinan mengunakan Adat Melayu, kepada almarhumlah kami meminta pendapat dan saran serta meminjam barang barang untuk melaksanakan acara tersebut.
Banyak sekali ilmu pengetahuan tentang adat dan Budaya Melayu yang kami dapatkn dari almarhum.
Pengakuan kadis Budaya ini, dari beliaulah saya mulai mengenal pengetahuan tentang Adat dan Budaya melayu, apalagi saya pribadi pernah menjadi murid almrhum saat masih SD.N 01Daek, Almarhum memilki disiplin yang tinggi dan tunak dalam Tradisi lisan terutama tentang Cerita- cerita Rakyat dan teater Bangsawan. Banyak sekali Nasehat – nasehat yang almrhum berikan ke saya, terutama tentang etika sopan santun dan motivasi pendidikan saat saya masih di bangku sekolah SD dan SMP, puji Ishak, kemudian tentang berumah tangga dan kepemimpinan orang melayu,terutama saat saya menjadi camat lingga dan kadis pariwisata dan kebudayaan kabupaten lingga. Almarhum juga ketika masih sehat tetap hadir memenuhi jemputan ke rmh sayabila saya mrngadakan Hajatan seperti acara kataman dan lain lain. Terakhir kali saya dan isteri membezuk almrhum (01/042019) Sewaktu Almarhum dirawat dirumah Sakit Encek Marian Daek ” cerita Ishak, . Walaupun kondisi almarhum sudah mulai lemah sewaktu itu aka tetapi beliau masih mengenal dan sesekali memanggil dan menyebut nama saya. Sayapun dan isteri masih sempat bercanda dengan almarhum “Tutup, Pak Is ini (Red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


tujuh − = 4

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.