Warga Mepar Butuh Tangga Untuk Naik Kepelabuhan Tanjung Beton.

IMG-20180814-WA0007KL – : Orang tua wali murid dan warga Desa Mepar Kecamatan Lingga risaukan dwngan tangga untuk naik kepelabuhan Tanjungbuton terutama anak sekolah, ketika air laut dalam keadaan surut.
Sebanyak 40 siswa/siswi atau pelajar, SLTP dan SLTA dari Pulau Mepar bersekolah di Daik Lingga, setiap pagi keberangkatan mereka melintasi laut menuju Pelabuhan Tanjungbuton menggunakan pompong laut dan harus bersusah payah menaiki tangga pelabuhan ketika air dalam keadaan surut.
Jamalul Fauwais warga Pulau Mepar yang setiap hari melihat kesulitan pelajar ingin menaiki tangga pelabuhan bersusah payah, karena tangga pelabuhan terlalu tinggi ketika air laut dalam ke adaan surut atau kering.
“Tangga naik yang ada di pertengahan pelabuhan tangga beton dan tergantung, terlalu tinggi bagi anak-anak sekolah ingin menaiki tangga pelabuhan bahkan bisa membahayakan,” kata Jamalul Fauwais, Selasa (14/8)
Dikatakan, kesulitan itu tidak saja pada anak-anak, tapi juga di rasakan orang perempuan paruh baya, mereka merasa kesulitan menaiki tangga pelabuhan yang di buat tidak sampai ke dasar laut paling terendah.
“Kalau air laut pasang (dalam) tidak masalah, pompong bersandar pada tangga naik tidak tinggi dan mudah di naiki. Jika dalam keadaan kering semua jadi serba salah. Naik di hujung pelabuhan sama halnya dengan yang ada, naik dari pangkal pelabuhan air laut kering dan berlumpur,” terangnya.
Atas nama masyarakat Pulau Mepar, Jamalul Fauwais meminta perhatian Dinas Perhubungan Kabupaten Lingga dapat menambah tangga naik pelabuhan yang ada supaya anak-anak dan orang paruh baya tidak kesulitan menaiki tangga yang sudah ada.
“Kami minta dinas memperhatikan masalah ini, kalau perlu lihat langsung ke lokasi, tapi ketika air dalam ke adaan surut, sesulit apa yang di rasakan pelajar yang setiap hari,” pintanya.
Syafii tokoh masyarakat Desa Mepar juga meminta Dinas Perhubungan Lingga dapat membangun pelabuhan atau pelantar sepanjang 100 Meter kelaut di tangga pelabuhan yang setiap hari dimafaatkan warga Mepar dan Daik, karena setiap hari pula warga dan masyarakat pulang dan pergi ke Pulau Mepar.
“Selain masalah tangga naik, saya berharap dinas terkait dapat juga membangun jembatan selebar 2 Meter, aktifitas masyarakat ingin ke Pulau Mepar khusus melewati pelantar itu, dan pompong angkutan masyarakat juga aman tidak harusnya berhimpitan dengan tiang pelabuhan,” tutur mantan Kepala Desa Mepar ini.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kabupaten Lingga Selamat mengaku sudah melihat kesulitan masyarakat menaiki tangga pelabuhan, namun pihaknya sudah mengajukan anggaran perencanaan tangga pada APBD-P Tahun 2018.
“Saya melihat langsung kesulitan itu, hingga saya sudah meminta kabid mengusulkan anggaran perencanaan tahun ini, mudah-mudahan Tahun 2019 pada ABPD murni dapat kita realisasikan, turunan anak tangga, supaya masyarakat tidak kesulitan menaikinya,” jelasnya.
Terkait usulan pembangunan pelantar untuk pompong dan pelabuhan khusus masyarakat untuk menyebrang, Selamat sangat merespon positif usulan tersebut.
“Itu sangat baik, tapi tetap kita respon, karena kita melihat memang layak di buat. Kita lihat dulu, apakah pembangunan itu nanti memanjang kelaut ataupun berdampingan dengan yang lama,” pungkasnya. (mrs/Sam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


tujuh − 6 =

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.